Nasehat Aa Gym Tentang “Orang Penting”
Tahun 2000 adalah tahun pertama saya masuk kerja. Girang sekali hati saya, mengingat dengan diterima kerja saya bisa melamar “mantan pacar”, yang kini sudah 10 tahun mendampingi sepak terjang saya. Rasanya enggak sabar menunggu malam perta… eh, saat akad nikah, ketika kami bersanding menjadi suami-istri. Sudah gatel rasanya untuk segera beraksi, mensahkan ikatan suami-istri yang digadang-gadang banyak orang sebagai surga dunia itu.
Habisnya, saya sudah mulai keteteran juga mengikuti saran Nabi Muhammad (maapin ane ye Kanjeng Nabi, ane cuma orang biasa yang gak punya kemampuan ngikutin gaya para sufi) bagi para pemuda yang rata-rata besar syahwatnya, supaya mengendalikan hawa nafsu dan menghindari dosa pakai puasa. Alhamdulillah. Disaat spaneng sudah tinggi itulah Allah menakdirkan saya dapat kerja, enggak sampai sebulan dari hari wisuda sarjana.
Menjelang pernikahan, makin berbunga-bunga saja perasaan ini ketika diundang guru saya, K.H. Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym, untuk tampil di TVRI Stasiun Daerah Jawa Barat, dalam acara : “Rumahku, Surgaku”. Enggak tanggung-tanggung, calon istri juga ikut diundang untuk diberi tausiyah bersama-sama saya. Wah, alangkah hebohnya setelah itu, sebab para kenalan kami yang luput diberi undangan jadi tahu kami akan menikah, gara-gara kebetulan menyaksikan Aa menceramahi kami berdua di televisi.
Selesai acara, ternyata Aa belum sama sekali selesai menasehati saya. Mendengar saya menikah karena telah dapat pekerjaan, pada kesempatan seusai on-air itu Aa memberikan beberapa nasihat tentang ikhtiar yang penuh manfaat kepada saya.
“Ed, Aa ingin, kalau kamu memegang amanah di perusahaan, kamu lebih banyak berpikir bagaimana caranya agar menjadi orang penting, bukan sekadar merasa penting.”kata Aa mengawali nasehatnya. ”Lihat, berapa banyak orang yang menjadi Presiden, Jenderal, Direktur dan Ulama, tapi tampak tidak ada manfaat atau pengaruh positifnya bagi rakyat, anak buah, pegawai atau santrinya. Jadilah orang yang selalu bertanya berapa banyak diri kita sudah memberikan manfaat, bukan berapa banyak diri kita sudah mendapatkan laba atau berapa pantas diri kita untuk naik jabatan.”
“Orang Penting” Dari Ciamis
Taryana Yanthesky