Bicara soal status, saya hendak merangkum cerita panjang soal status saya sebagaimahasiswa. Kenapa saya tulis cerita panjang, yaa karena memang panjang ceritanya. Secara gitu lho.... untuk mendapatkan gelar S1 akademik, saya butuh waktu 6 tahun untuk menyelesaikannya. Dan Alhamdulillah selama 6 tahun itu juga saya telah mendapatkan gelar S2 dikehidupan saya (Si Istri dan Si Ambu) huhuuuuuyyyy ;D.untuk S3(Si Nenek) entar nyusul insyaAllah kalu ada umur , hihiiiiihhiihiihhhhi hup kepanjangan ngikiknya :)
Sampai saat ini, status mahasiswa masih dipandang sebagai sesuatu yang "wah" bagi sebagian orang, terlebih saya berasal dari keluarga yang sederhana. Mengenyam bangku universitas dipandang sebagai sesuatu yang MAHAL dan PERCUMA, istilah lainnya "buang-buang duit" (duit ko dibuang-buang, kayak ga ada kerjaan ajah hehehe). Toh banyak sarjana yang meng"Anggur" setelah mereka lulus. Seharusnya usia 18th itu kan usia produktif bagi seseorang untuk "menghasilkan",bukan malah nambah beban orang tua dengan minta biaya yang lebih mahal. Mungkin itu beraku bagi sebagian orang tua, alamdulillah tidak bagi orangtuaku. Atau malah ada anak yang kurang berminat untuk mengecap bangku perkuliahan, dikarenakan sudah tidak tertarik untuk sekolah. Mereka lebih tertantang untuk belajar diluar "kotak", belajar tentang sosialisasi, komunikasi, pekerjaan dan berbagai hal tentang dunia kehidupan. Mungkin itu mereka, lain halnya denganku saat itu. Satu yang pasti semua ada jalan ketika anak dan orang tua mendukung, soal lainnya menyusul.
Awal saya ingin berstatus mahasiswa, bukan karena ingin menjaga gengsi atau dihormati. Saat itu keinginan saya untuk bersekolah masih sangat kuat, terlebih saya mendapatkan nilai kelulusan tertinggi diSMK semakin menguatkan saya untuk kembali "menguji nyali" di bangku sekolah.(masa mau masuk SMA lagi?),alasan lainnya adalah jujur saya belum siap dengan dunia kerja. Saya dapat gambaran saat PKL, persaingan dunia kerja yang menurut saya kurang sehat.
Status sebagai mahasiswa tidak semudah yang saya bayangkan. Apalagi saat itu ekonomi keluarga saya tengah goyang. Pikiran bercabang, hanya beberapa kawan yang tahu. Tingkat pertama alhamdulillah saya dipertemukan dengan kawan yang selalu memberikan energi positif dan peduli kepada saya. Kita saling menegur dan mengingatkan. memberi semangat dan motivasi. Meski kita punya prioritas masing-masing.
Suatu ketika, tanpa saya ketahui ada kawan saya yang mendaftarkan saya untuk mendapatkan beasiswa untuk membayar uang semester. Saat itu saya orangnya ga aktif, apalagi tanya-tanya soal informasi beasiswa.Alahamdulillah syukur padaMu ya Rabb, dan terimakasih kepadamu wahai sahabatku. Walhasil, tingkat dua dan tiga saya gratis membayar uang SPP semester.
Pikiran saya mulai hilang cabangnya satu. Tinggal beberapa cabang lagi yang harus saya pangkas. Salah satunya adalah mencari uang untuk bantu mama, minimal untuk uang jajanku sendiri dan "ngasih" kepada 2 adikku. Alhamdulillah Allah juga memudahkan, saat itu ada kawan yang memberi informasi mengenai tenaga pengajar privat. Alhamdulillah wasyukurillah.
Tingkat 2 dan 3 adalah masa-masa saya, masa apa??? masa iya. hahahah masa bahagia, masa pembelajaran, masa perenungan, masa sulit, masa menyakitkan (halah), masa penyadaran, masa pendewasaan, masa bersahabat. pokonya masa masa dimana saya dituntut untuk bisa mengambil keputusan untuk menentukan hidup saya kedepan, entah itu soal jodoh, soal sikap, soal impian, soal karir, dan sebagainya. Untuk detailnya tanya langsung pada saya (hahahaahha, ngawur pemirsah).
Masuk tingkat 4, I'm a wife,,, bulan madu kami isi dengan pisah ranjang (whyyyyy???), soale saya sedang masuk perkuliahan KKN. ya terpaksa saya diungsi in dulu. heheheh.sepanjang jalan cicadas-ciwidey, teman-teman KKN menjadi saksi masa-masa pacaran sekaligus bulan madu kami. Di akhir tingkat 4, sesuatu yang membahagiakan terjadi, helloooo i'm pregnant. yiiiiippiiiii.... masa masa PKL yang dahsyat, terimakasih kepada dosen dan guru pembimbing yang mengertiiiiiii banget. Juga pada kawans PKL ku, tak lupa penguji yang memberi kemudahan. namun sayang skripsi tak terselesaikan.
Masuk tingkat 5, rencana tinggalah rencana. skripsi yang saya targetkan tak terkejar, atau lebih tepatnya lagi sengaja tak saya kejar, fokus saya berpindah haluan pada buah hati kami. Akhirnya saya putuskun untuk mengambil cuti. agar uang yang dibayarkan tidak menjadi mubazir. tahun kelima status mahasiswa, hari-hari saya lalui dengan menemani lutfi. akhir tingkat 5 saya magang untuk kelengkapan skripsi saya yang tertunda, saat itu lutfi masuk usia 4 bulan, dan terpaksa saya harus menitipkannya kepada tante kesayangan saya.
di tingkat 6 ini, saya bertekad kembali untuk melepaskan status mahasiswa saya. Ya, saya harus menuntaskannya. Ini sebagai pembuktian diri. Kegalauan membagi waktu untuk menemani lutfi, mengerjakan pekerjaan rumah, mengerjakan draft skripsi,dan menemui dosen untuk bimbingan adalah sesuatu yang membuat kami (saya dan abah) berpikir keras. Mungkin bisa dikatakan bahwa salah satu alasan abah untuk resign (memilih freelance) adalah untuk mendukung saya menyelesaikan skripsi ini. Malu rasanya harus izin kepada atasan abah hanya untuk mengantar dan mengajak main lutfi saat saya bimbingan. sekarang kita lebih bisa mengatur jadwal, kapan saya bimbingan, kapan abah bekerja, dan kapan kita bermain bersama.
Alhamdulillah meski semuanya tak gampang seperti yang dituliskan, tapi inilah cara kami untuk menggapai impian bersama. Ya, impian bersama. Bukan impian saya sendiri atau impian abah sendiri. Kamilah yang berperan sebagai aktor dalam hidup kami sendiri. Kami ingin bahagia, tentunya dengan standar kami sendiri. Do'a dan dukungan, itu yang kami harap.
Sekarang, BAB 1,2,3 telah ditangan. Masuk ke BAB 4 dan 5 mudah-mudahan Allah memperlancar jalannya. Allahumma yassir wa la tu'assir..... Amiin Allahuma Amiin....


