29 Des 2011

Seputar Status Mahasiswaku

Akhir akhir ini saya "demen" memperhatikan berbagai status. Kalau ada yang tanya "status kamu apa?" pasti kebanyakan menjawab perihal status hubungan mereka, entah itu single, double or triple atau mungkin apple atau purple, heheh... Status bukan melulu soal relationship. Bagi saya status adalah sesuatu yang mewakilkan "kamu banget" mulai dari  relationship, pekerjaan, situasi, kondisi, persepsi, korelasi, regresi, (halaaah ngaco... demam skripsi pemirsah ^_^ ) yaaa pokonya menggambarkan kamu banget.

Bicara soal status, saya hendak merangkum cerita panjang soal status saya sebagaimahasiswa. Kenapa saya tulis cerita panjang, yaa karena memang panjang ceritanya. Secara gitu lho.... untuk mendapatkan gelar S1 akademik, saya butuh waktu 6 tahun untuk menyelesaikannya. Dan Alhamdulillah selama 6 tahun itu juga saya telah mendapatkan gelar S2 dikehidupan saya (Si Istri dan Si Ambu) huhuuuuuyyyy ;D.untuk S3(Si Nenek) entar nyusul insyaAllah kalu ada umur , hihiiiiihhiihiihhhhi hup kepanjangan ngikiknya :)

Sampai saat ini, status mahasiswa masih dipandang sebagai sesuatu yang "wah" bagi sebagian orang, terlebih saya berasal dari keluarga yang sederhana. Mengenyam bangku universitas dipandang sebagai sesuatu yang MAHAL dan PERCUMA, istilah lainnya "buang-buang duit" (duit ko dibuang-buang, kayak ga ada kerjaan ajah hehehe). Toh banyak sarjana yang meng"Anggur" setelah mereka lulus. Seharusnya usia 18th itu kan usia produktif bagi seseorang untuk "menghasilkan",bukan malah nambah beban orang tua dengan minta biaya yang lebih mahal. Mungkin itu beraku bagi sebagian orang tua, alamdulillah tidak bagi orangtuaku. Atau malah ada anak yang kurang berminat untuk mengecap bangku perkuliahan, dikarenakan sudah tidak tertarik untuk sekolah. Mereka lebih tertantang untuk belajar diluar "kotak", belajar tentang sosialisasi, komunikasi, pekerjaan dan berbagai hal tentang dunia kehidupan. Mungkin itu mereka, lain halnya denganku saat itu. Satu yang pasti semua ada jalan ketika anak dan orang tua mendukung, soal lainnya menyusul.

Awal saya ingin berstatus mahasiswa, bukan karena ingin menjaga gengsi atau dihormati. Saat itu keinginan saya untuk bersekolah masih sangat kuat, terlebih saya mendapatkan nilai kelulusan tertinggi diSMK semakin menguatkan saya untuk kembali "menguji nyali" di bangku sekolah.(masa mau masuk SMA lagi?),alasan lainnya adalah jujur saya belum siap dengan dunia kerja. Saya dapat gambaran saat PKL, persaingan dunia kerja yang menurut saya kurang sehat.

Saat itu saya mencoba untuk mengikuti tes PMDK, namun sayang saya gagal masuk. Karena memang jurusan saya saat SMK tidak sesuai dengan jurusan yang saya pilih  Saat itu tak ada uang lagi untuk Lanjut ke SPMB, karena jatah untuk biaya formulir sudah habis. Hari terakhir pembelian formulir restu mamah sudah ditangan, namun uangnya belum ditangan. dengan tekad, alhamdulillah ada teman yang sangat baik yang meminjamkan uang untuk pendaftaran. Walhasil ikutlah saya SPMB mengambil IPS (Pendidikan Akuntansi). Alhamdulillah Allah memberikan kesempatan kepada saya yang notabene lulusan tata kecantikan kulit untuk masuk ke pendidikan akuntansi (jangan aneh yah,,, saya juga kaget ko saat itu ^_^)

Status sebagai mahasiswa tidak semudah yang saya bayangkan. Apalagi saat itu ekonomi keluarga saya tengah goyang. Pikiran bercabang, hanya beberapa kawan yang tahu. Tingkat pertama alhamdulillah saya dipertemukan dengan kawan yang selalu memberikan energi positif dan peduli kepada saya. Kita saling menegur dan mengingatkan. memberi semangat dan motivasi. Meski kita punya prioritas masing-masing.

Suatu ketika, tanpa saya ketahui ada kawan saya yang mendaftarkan saya untuk mendapatkan beasiswa untuk membayar uang semester. Saat itu saya orangnya ga aktif, apalagi tanya-tanya soal informasi beasiswa.Alahamdulillah syukur padaMu ya Rabb, dan terimakasih kepadamu wahai sahabatku. Walhasil, tingkat dua dan tiga saya gratis membayar uang SPP semester.

Pikiran saya mulai hilang cabangnya satu. Tinggal beberapa cabang lagi yang harus saya pangkas. Salah satunya adalah mencari uang untuk bantu mama, minimal untuk uang jajanku sendiri dan "ngasih" kepada 2 adikku. Alhamdulillah Allah juga memudahkan, saat itu ada kawan yang memberi informasi mengenai tenaga pengajar privat. Alhamdulillah wasyukurillah.

Tingkat 2 dan 3 adalah masa-masa saya, masa apa??? masa iya. hahahah masa bahagia, masa pembelajaran, masa perenungan, masa sulit, masa menyakitkan (halah), masa penyadaran, masa pendewasaan, masa bersahabat. pokonya masa masa dimana saya dituntut untuk bisa mengambil keputusan untuk menentukan hidup saya kedepan, entah itu soal jodoh, soal sikap, soal impian, soal karir, dan sebagainya. Untuk detailnya tanya langsung pada saya (hahahaahha, ngawur pemirsah).

Masuk tingkat 4, I'm a wife,,, bulan madu kami isi dengan pisah ranjang (whyyyyy???), soale saya sedang masuk perkuliahan KKN. ya terpaksa saya diungsi in dulu. heheheh.sepanjang jalan cicadas-ciwidey, teman-teman KKN menjadi saksi masa-masa pacaran sekaligus bulan madu kami. Di akhir tingkat 4, sesuatu yang membahagiakan terjadi, helloooo i'm pregnant. yiiiiippiiiii.... masa masa PKL yang dahsyat, terimakasih kepada dosen dan guru pembimbing yang mengertiiiiiii banget. Juga pada kawans PKL ku, tak lupa penguji yang memberi kemudahan. namun sayang skripsi tak terselesaikan.

Masuk tingkat 5, rencana tinggalah rencana. skripsi yang saya targetkan tak terkejar, atau lebih tepatnya lagi sengaja tak saya kejar, fokus saya berpindah haluan pada buah hati kami. Akhirnya saya putuskun untuk mengambil cuti. agar uang yang dibayarkan tidak menjadi mubazir. tahun kelima status mahasiswa, hari-hari saya lalui dengan menemani lutfi. akhir tingkat 5 saya magang untuk kelengkapan skripsi saya yang tertunda, saat itu lutfi masuk usia 4 bulan, dan terpaksa saya harus menitipkannya kepada tante kesayangan saya.

di tingkat 6 ini, saya bertekad kembali untuk melepaskan status mahasiswa saya. Ya, saya harus menuntaskannya. Ini sebagai pembuktian diri. Kegalauan membagi waktu untuk menemani lutfi, mengerjakan pekerjaan rumah, mengerjakan draft skripsi,dan menemui dosen untuk bimbingan adalah sesuatu yang membuat kami (saya dan abah) berpikir keras. Mungkin bisa dikatakan bahwa salah satu alasan abah untuk resign (memilih freelance) adalah untuk mendukung saya menyelesaikan skripsi ini. Malu rasanya harus izin kepada atasan abah hanya untuk mengantar dan mengajak main lutfi saat saya bimbingan. sekarang kita lebih bisa mengatur jadwal, kapan saya bimbingan, kapan abah bekerja, dan kapan kita bermain bersama.

Alhamdulillah meski semuanya tak gampang seperti yang dituliskan, tapi inilah cara kami untuk menggapai impian bersama. Ya, impian bersama. Bukan impian saya sendiri atau impian abah sendiri. Kamilah yang berperan sebagai aktor dalam hidup kami sendiri. Kami ingin bahagia, tentunya dengan standar kami sendiri. Do'a dan dukungan, itu yang kami harap.

Sekarang, BAB 1,2,3 telah ditangan. Masuk ke BAB 4 dan 5 mudah-mudahan Allah memperlancar jalannya. Allahumma yassir wa la tu'assir..... Amiin Allahuma Amiin....

9 Des 2011

DUA ORANG BAIK YANG PERKAWINANNYA TIDAK BERAKHIR BAHAGIA...

Bismillahir-Rahmanir-Rahim


Ibu saya adalah seorang yang sangat baik,
sejak kecil, saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga.
Ia selalu bangun dini hari,
memasak bubur yang panas untuk ayah,
karena lambung ayah tidak baik,
pagi hari hanya bisa makan bubur.

Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi untuk anak-anak,
karena anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan,
perlu makan nasi,
dengan begitu baru tidak akan lapar seharian di sekolah.
Setiap sore, ibu selalu membungkukkan badan menyikat panci,
setiap panci di rumah kami bisa dijadikan cermin,
tidak ada noda sedikikt pun.
Menjelang malam,
dengan giat ibu membersihkan lantai,
mengepel seinci demi seinci,
lantai di rumah tampak lebih bersih dibanding sisi tempat tidur orang lain,
tiada debu sedikit pun meski berjalan dengan kaki telanjang.

Ibu saya adalah seorang wanita yang sangat rajin.

Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang baik.
Dalam proses pertumbuhan saya, tidak hanya sekali saja ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam perkawinan, tidak memahaminya.
Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab.

Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras,
serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu,
bahkan saat libur juga masih mengatur jadwal sekolah anak-anak,
mengatur waktu istrirahat anak-anak,
ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab,
mendorong anak-anak untuk berpretasi dalam pelajaran.

Ia suka main catur,
suka larut dalam dunia buku-buku kuno.
Ayah saya adalah seoang laki-laki yang baik,
di mata anak-anak,
ia maha besar seperti langit,
menjaga kami,
melindungi kami dan mendidik kami.

Hanya saja, di mata ibuku,
ia juga bukan seorang pasangan yang baik,
dalam proses pertumbuhan saya,
kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam diam di sudut halaman.
Ayah menyatakannya dengan kata-kata,
sedang ibu dengan aksi, menyatakan kepedihan yang dijalani dalam perkawinan.

Dalam proses pertumbuhan,
aku melihat juga mendengar ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu,
sekaligus merasakan betapa baiknya mereka,
dan mereka layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik.
Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia,
kehidupan perkawinan mereka lalui dalam kegagalan,
sedangkan aku, juga tumbuh dalam kebingungan,
dan aku bertanya pada diriku sendiri :
Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?

Pengorbanan yang dianggap benar.

Setelah dewasa,
saya akhirnya memasuki usia perkawinan,
dan secara perlahan–lahan saya pun mengetahui akan jawaban ini.
Di masa awal perkawinan,
saya juga sama seperti ibu,
berusaha menjaga keutuhan keluarga,
menyikat panci dan membersihkan lantai,
dengan sungguh-sungguh berusaha memelihara perkawinan sendiri.
Anehnya, saya tidak merasa bahagia ;
dan suamiku sendiri, sepertinya juga tidak bahagia.

Saya merenung,
mungkin lantai kurang bersih,
masakan tidak enak,
lalu, dengan giat saya membersihkan lantai lagi,
dan memasak dengan sepenuh hati.
Namun, rasanya, kami berdua tetap saja tidak bahagia. .

Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk membersihkan lantai,
suami saya berkata :
istriku, temani aku sejenak mendengar alunan musik!

Dengan mimik tidak senang saya berkata :
apa tidak melihat masih ada separoh lantai lagi yang belum di pel ?

Begitu kata-kata ini terlontar,
saya pun termenung, kata-kata yang sangat tidak asing di telinga,
dalam perkawinan ayah dan ibu saya, ibu juga kerap berkata begitu sama ayah.
Saya sedang mempertunjukkan kembali perkawinan ayah dan ibu,
sekaligus mengulang kembali ketidakbahagiaan dalam perkawinan mereka.
Ada beberapa kesadaran muncul dalam hati saya.

Yang kamu inginkan ?

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya,
lalu memandang suamiku,
dan teringat akan ayah saya.
Ia selalu tidak mendapatkan pasangan yang dia inginkan dalam perkawinannya,
waktu ibu menyikat panci lebih lama daripada menemaninya.
Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga,
adalah cara ibu dalam mempertahankan perkawinan,
ia memberi ayah sebuah rumah yang bersih,
namun, jarang menemaninya,
sibuk mengurus rumah,
ia berusaha mencintai ayah dengan caranya, dan cara ini adalah mengerjakan urusan rumah tangga.
Dan aku, aku juga menggunakan caraku berusaha mencintai suamiku.
Cara saya juga sama seperti ibu,
perkawinan saya sepertinya tengah melangkah ke dalam sebuah cerita,
dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia.

Kesadaran saya membuat saya membuat keputusan (pilihan) yang sama.

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di sisi suami, menemaninya mendengar musik, dan dari kejauhan, saat memandangi kain pel di atas lantai seperti menatapi nasib ibu.

Saya bertanya pada suamiku :
apa yang kau butuhkan ?

Aku membutuhkanmu untuk menemaniku mendengar musik,
rumah kotor sedikit tidak apa-apa-lah,
nanti saya carikan pembantu untukmu,
dengan begitu kau bisa menemaniku!
ujar suamiku.

Saya kira kamu perlu rumah yang bersih,
ada yang memasak untukmu,
ada yang mencuci pakaianmu dan saya mengatakan sekaligus serentetan hal-hal yang dibutuhkannya.

Semua itu tidak penting-lah! ujar suamiku.
Yang paling kuharapkan adalah kau bisa lebih sering menemaniku.

Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan,
hasilnya benar-benar membuat saya terkejut.
Kami meneruskan menikmati kebutuhan masing-masing,
dan baru saya sadari ternyata dia juga telah banyak melakukan pekerjaan yang sia-sia,
kami memiliki cara masing-masing bagaimana mencintai,
namun, bukannya cara pihak kedua.

Jalan kebahagiaan

Sejak itu, saya menderetkan sebuah daftar kebutuhan suami,
dan meletakkanya di atas meja buku.
Begitu juga dengan suamiku,
dia juga menderetkan sebuah daftar kebutuhanku.
Puluhan kebutuhan yang panjang lebar dan jelas,
seperti misalnya,
waktu senggang menemani pihak kedua mendengar musik,
saling memeluk kalau sempat,
setiap pagi memberi sentuhan selamat jalan bila berangkat.

Beberapa hal cukup mudah dilaksanakan,
tapi ada juga yang cukup sulit,
misalnya dengarkan aku,
jangan memberi komentar.
Ini adalah kebutuhan suami.
Kalau saya memberinya usul,
dia bilang akan merasa dirinya akan tampak seperti orang bodoh.
Menurutku, ini benar-benar masalah gengsi laki-laki.
Saya juga meniru suami tidak memberikan usul,
kecuali dia bertanya pada saya,
kalau tidak saya hanya boleh mendengar dengan serius,
menurut sampai tuntas,
demikian juga ketika salah jalan.

Bagi saya ini benar-benar sebuah jalan yang sulit dipelajari,
namun, jauh lebih santai daripada mengepel, dan dalam kepuasan kebutuhan kami ini,
perkawinan yang kami jalani juga kian hari semakin penuh daya hidup.
Saat saya lelah,
saya memilih beberapa hal yang gampang dikerjakan,
misalnya menyetel musik ringan,
dan kalau lagi segar bugar merancang perjalanan keluar kota .
Menariknya, pergi ke taman flora adalah hal bersama dan kebutuhan kami,
setiap ada pertikaian, selalu pergi ke taman flora,
dan selalu bisa menghibur gejolak hati masing-masing.
Sebenarnya, kami saling mengenal dan mencintai juga dikarenakan kesukaan kami pada taman flora,
lalu bersama kita menapak ke tirai merah perkawinan,
kembali ke taman bisa kembali ke dalam suasana hati yang saling mencintai bertahun-tahun silam.

Bertanya pada pihak kedua :
apa yang kau inginkan, kata-kata ini telah menghidupkan sebuah jalan kebahagiaan lain dalam perkawinan. Keduanya akhirnya melangkah ke jalan bahagia.
Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa bahagia,
mereka terlalu bersikeras menggunakan cara sendiri dalam mencintai pihak kedua,
bukan mencintai pasangannya dengan cara pihak kedua.

Diri sendiri lelahnya setengah mati,
namun, pihak kedua tidak dapat merasakannya,
akhirnya ketika menghadapi penantian perkawinan,
hati ini juga sudah kecewa dan hancur.
Karena Tuhan telah menciptakan perkawinan,
maka menurut saya,
setiap orang pantas dan layak memiliki sebuah perkawinan yang bahagia,
asalkan cara yang kita pakai itu tepat, menjadi orang yang dibutuhkan pihak kedua!
Bukannya memberi atas keinginan kita sendiri,
perkawinan yang baik,
pasti dapat diharapkan
Sumber: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=179472828786459&set=t.100000552424375&type=1&theater

24 Nov 2011

Brokenhome not mean your life is broke

Bismillahirrohmannirrohiim...

Subhanalloh,
Ternyata tak mudah menjadi seorang wanita yang dapat menghebatkan suami dan anak-anaknya. Namun tetap itulah salah satu cita-cita terbesarku. Bagiku tak ada peran yang mendapatkan keuntungan ribuan sekaligus bahkan mungkin tak terhingga (jika berhasil), selain melakoni peran sebagai istri dan ibu yang baik sebaik-baiknya. Dan hal ini tidak mungkin tercapai bila tak ada dukungan dari suami dan anak-anak ku kelak.

Akhir - akhir ini sepertinya fenomena kawin cerai makin marak, apalagi dikalangan para selebritis. Rasa - rasanya KUA dan pengadilan agama menjadi laris manis bak kacang goreng. Dengan mudahnya "mereka" ganti status dari lajang menjadi berpacaran kemudian menikah, lalu kembali lagi menjadi lajang (baca: duda, janda), ah seperti di facebook saja yang dengan mudahnya berganti status. BUkankah pernikahan itu sesuatu yang sakral dan janji suci yang Allahpun ikut menjadi saksi? sebenarnya apa yang salah?

Alloh menakdirkanku untuk dibesarkan di lingkungan keluarga yang broken home. Pada saat itu broken home masih sangat tabu lain hal dengan sekarang, sehingga tak jarang membuatku minder. Seorang anak Broken home juga biasanya diidentikkan dengan perilaku yang juga "broke". Dan ternyata benar saja, dari hasil pengamatanku sendiri, sebagian besar perilaku "broke" pada anak itu karena berbagai "permasalahan" yang terjadi dirumah. Mungkin itulah sebabnya banyak sekali buku parenting yang melarang keras orang tua bertengkar dihadapan anak dan melakukan kekerasan pada anak. Dan aku ingin sekali mengubah paradigma itu, bahwa tak selalu anak broken home itu semuanya ikut broke juga. ya, walaupun aku tak bisa mengelak bahwa pada saat itu ada beberapa sifat yang berbeda dari anak yang hidup dengan "normal". Misalnya saja, sifatku yang cenderung introvert, tidak show up, kurang percayadiri, posesif, dlsb. dan baru kusadari saat ini bahwa jika sifat tersebut tidak dikelola, maka hampir dapat dipastikan aku akan menjadi pribadi yang lemah dan tertinggal kelak.

Sebagai seorang yang pernah menjadi anak broken home, dan kini telah merasakan jua menjadi orangtua, aku hanya ingin sedikit berbagi. Karena tak banyak yang kupunya selain pengalaman.

sebuah perbandingan....

Saat itu (perpisahan orangtua) saya berada dalam rentang usia yang dianggap rawan yakni 15 tahun. saya merasa jatuh dan menyalahkan takdir yang sudah terjadi. Namun peran sahabat dan mamah sangat membantu saya untuk tidak berbuat hal yang "aneh". Pada saat seperti ini support dan mengalihkannya kearah kegiatan yang positif sangat dibutuhkan. dan Alhamdulillah saya dipertemukan dengan sahabat-sahabat yang luar biasa baiknya. Hingga akhirnya saya bisa melewati rentang usia labil. Dan kini saya sudah mulai belajar tegas pada diri saya sendiri.

Adik bungsu saya saat itu masih berusia 3-4 tahun, dan masa kecilnya tetap bahagia seolah tak terjadi apa-apa. Walaupun sesekali suka bertanya, disinilah jawaban-jawaban bijak yang diperlukan.

Sedangkan rekan saya, ia mengalami kejadian itu ketika ia sudah mampu tegas terhadap dirinya yaitu 21 tahun. Walaupun shock itu pasti, namun ia sudah dapat mengambil sikap atas keputusan orangtuanya dan alhamdulillah ia mampu menjembatani keduanya.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatanku,kebanyakan anak yang mengalami broken home pada usia antara 9 - 18 tahun akan lebih terguncang dibandingkan dengan usia diatas atau dibawah rentang itu, kenapa? karena mereka sudah paham permasalahan orangtuanya, namun mereka bingung harus melakukan apa padahal mereka masih tergantung kepada orangtua nya. Mereka belum bisa tegas terhadap diri sendiri, apalagi tegas terhadap kedua orangtuanya.Disinilah peran lingkungan luar sangat dominan. Jika si anak masuk dalam pergaulan yang salah, maka hampir dapat dipastikan si anak juga akan bersikap seperti itu. Begitupun sebaliknya.

Seringkali aku mendengar kata "cerai baik-baik", bukankah dengan bercerai berarti ada sesuatu yang tak baik? seharusnya ya diperbaiki dong, bukan malah menggantinya dengan istilah "cerai baik - baik". Karena sebaik apapun perceraian, hal tersebut tetap menjadi luka berbekas di hati dan pikiran anak.

Disini aku tak ceritakan soal papah, bukan berarti aku membencinya, hanya saja selepas kejadian itu, aku tak tahu keidupan papah seperti apa, kami hanya berkomunikasi sesekali. Alamdulillah papah masih menafkahi anak anaknya.

CATATAN :
Bagi si anak
"Life must go on, tidak ada yang berhak merusak kehidupanmu kecuali aku sendiri yang menginginkannya"

"i was a broken home, but my akhlak isn't broke too"

"hey masalah besar, kau tidak ada apa-apanya dibandingkan Allahku yang Maha Besar"

"Hidup itu adalah ujian, dimana aku dapat naik tingkat apabila kita dapat melewatinya dengan baik"

"pemenang menghadapi masalah, pecundang lari dari masalah"

"broken home itu bukan penyakit turunan, jadi jangan sampai kelak anakku bernasib sama denganku"

"aku tetap menyayangi kedua orangtuaku karena Allah"

Bagi sahabat si anak
"berhentilah menanyakan hal yang malah membuatnya sedih, karena peran aku disini adalah menghiburnya bukan malah mengorek kesedihannya. Biarkan ia sendiri yang memulai cerita,sedangkan aku mensupport nya."

Bagi orangtua
sepelik apapun urusan rumah tangga, berusahalah untuk terus memperbaikinya dengan cara yang baik.

jika memang harus berpisah, jangan pernah lupakan tanggung jawab dunia akhiratmu. karena baik atau buruknya anakmu kelak akan kembali padamu


Catatan saya ini hanya bertujuan untuk memberi semangat bahwa
"brokenhome not mean your life is broke too"

19 Okt 2011

setahun sudah kau temani hidup kami ^^

Bismillahirrahmaannirraiim....

Hey nak, tahukah kamu?
malam ini sungguh indah bagi kami, ambu dan abahmu.
kamu tahu apa alasannya???
jika kami tahu, setahun yang lalu, ini adalah malam terakhirmu berada didalam rahimku,
hidup dialam kegelapan yang hangat dan damai.

hey nak, tahukah kamu?
malam ini aku, ambumu sedang cemas dan tegang.
kamu tahu penyebabnya???
jika aku tahu, setahun yang lalu, ini adalah waktu saat kamu tengah bersiap untuk melihat terangnya dunia,
sedang aku, tengah persiapkan lahir bathinku untuk menyambutmu.

hey nak, tahukah kamu?
malam ini bahagianya hati kami,
kamu tahu kenapa???
esok genap setahun kami menjadi ambu dan abahmu,
hadirmu semakin memberi arti hidup kami

1 tahunmu
tangis yang berderai
senyum yang tersemat,
tawa yang terurai serta
gerak tubuhmu yang lincah,
ah, rasanya tak ada alasan bagi kami untuk tidak bahagia.

selamat hari lahir sayang
do'a dan restu kami tercurah untukmu, putraku
maafkan kami, orang tuamu, belum bisa berikan yang terbaik..
peluk cium dan senyum kami untukmu, Lutfirrahman Zamzami

cinta kami tak seperti jejak pasir nak


8 Okt 2011

Hijrah kami, dari cicadas hingga cimahi

Bismillahirrahmaannirrahiim.....
Hanya ingin bercerita tentang kepindahan kami (hijrah) keluar kota, yaitu ke CIMOHAI (red:cimahi) (hehehe walaupun cuma 'salengkah' dari bandung, tapi teuteup luar kota yah ;p) mulai dari nyari kosan sampe pindahan alhamdulillah diberi kemudahan, ya ga mudah mudah amet sih, lumayan lah ada problem dikit saat pendistribusian barang (bahasanyeeee kaga nahan cooyyy !!!!)

Kami sudah 2 tahun menikah, alhamdulillah kami masih diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk tinggal dirumah oranglain (masa iya di rumah hewanlain :D wkwkwkwk), ko jadi kontraktor alhamdulillah sih??? ya iya, klo ga alhamdulillah (red-bersyukur) mana mungkin Allah menambah nikmatnya? tul apa tul????

PERTAMA kami diberikan ijin oleh Allah untuk mengisi rumah kontrakan di daerah cicadas bandung (belakang RS. Santo Yusuf, ada yang tau kawan???) waktu itu gaji abah masih pas pasan untuk membayar kontrakan, sedangkan untuk kebutuhan sehari hari alhamdulillah kerjaan sampingan cukup bisa menutupi. Bicara dari hati ke hati sering dilakukan oleh pasangan baru, apalagi kami belum terlalu lama saling mengenal, menyatukan visi dan misi menjadi pokok pembicaraan, 'mau dibawa kemana'kah biduk Rumah tangga kami??? (armada mode:on). Saat itu kami masih satu rumah dengan orangtua dan adik.Setelah 3 bulan menikah, akhirnya kami memutuskan untuk memisahkan diri dari induknya(lho ko???emangnya ayam hihihii). tinggal berdua saja, menjadi keputusan kami bersama. dengan dana yang cukup minim, kami cari cari kosan daerah gerlong, secara gitu gerlong kosannya melambung tinggi ke awan semenjak Universitas Pendidikan Nasional (UPI) diubah bak gedung gedung pencakar langit (maaf edisi lebayyy pemirsah). kian kemari kami mencari tempat yang pas dikantong dan pas dihati, "Alkhamdulillah yah" ada jalannya, salah seorang rekan abah ada yang menawari untuk tinggal dirumahnya yang sedang dibangun.Nah sekarang malah aku sendiri yang ragu, soalnya aku anak mamah (cikiciw.....) yang ga pernah merasakan "indahnya" hidup jauh dari rumah. okey hari H yang dinanti tiba akhirnya mau ga mau ngikut suami tercintah.

Berarti yang KEDUA kami diberikan ijin oleh Allah dan pemilik rumah tsb untuk menempati rumah besarnya yang sedang dibangun di daerah cihanjuang, bandung barat.tentunya pas dikantong dan pas dihati. 6 bulan dirumah kedua, alhamdulillah kami diberikan kepercayaan oleh Allah (lagi)seorang janin dalam perut yang kini telah berusia hampir setahun,yah LUTFIRRAHMAN ZAMZAMI namanya. Kehamilanku saat itu bertepatan dengan Praktek Latihan Profesi (PLP), tidak mudah memang, tapi bukan berarti tidak bisa. Suka duka Kuliah, sambil nikah, sambil punya anak akan diposting kemudian. lanjut Masuk trimester akhir kehamilan, aku ingin dekat dengan mama, karena masih ada kekhawatiran untuk mengurus bayi apalagi ini hal yang baru. Akhirnya abah mengACC pengajuanku untuk tinggal dengan mama sementara di daerah cicadas, bandung. Akhirnya masuk usia 8 bulan kehamilan, kami pindah ke tempat mamaku.

Kepindahan kami yang KETIGA ini,  awalnya kami berencana untuk tinggal hanya beberapa bulan saja disana, tapi karena aku ditugaskan untuk magang, demi kelengkapan skripsiku. akhirnya rencana tinggalah rencana. Skripsi belum beres, ehhh malah keenakkan aja yang ada. hihihii maklum ada mama gitu lho.rencana beberapa bulan berubah jadi setahun (itu juga kan masih beberapa bulan, 12 bulan gitcu lox, halaah alesaaann;P)  kami mulai bicara lagi dari hati ke hati. apalagi dipicu dengan kehadiran heart fruit (buah hati, xixixi ) dan berbagai buku yang kami baca belakangan ini, membuat kami kembali memacu diri,

ya kami harus memepetkan diri,
kami harus hijrah (tempat, hati dan mindset),
kami harus keluar dari comfort zone (zona nyaman),
kami harus relisasikan impian impian kami,
kami harus bisa membahagiakan orang orang yang kami cintai (keluarga, saudara, sahabat,orang2yang kesusahan)
kami harus percepat langkah kami,
kami harus memantaskan diri untuk menjadi seorang yang sukses dan mulia.
yaaaaa action, action, action actioooooooooooooonnnnnn (heup... kepanjangan ^_^) saking semangatnya nih, menderu debu (kaya judul pilm jaman dulu yah?)
Yup inilah action kami yang pertama,tapi rumah yang ke 4 xixixixxi yaitu pindah tempat (lagi,lagi dan lagi) ke cimahi, belakang jembatan gunung batu (ada yang tau kawans??)

Pencarian kontrakan ini alhamdulillah tidak sampai berbulan bulan ataupun berminggu-minggu, yup saking kuatnya niat kami, dalam dua hari ketemu kontrakan ini dan langsung di DP (bukan dewi perssik lhooo hehehe) pas dirumah kita saling pandang, dan terjadilah percakapan
"beh jadi???" tanyaku dengan hati yang ragu
"muhun, kan tos di DPan (sekali lagi bukan dewi perssik yah pemirsah)" jawab abah kembali meyakinkanku,
"oh" sahutku, padahal kami belum bilang sama mamah,adik, om, bibi, ua, keponakan  dll. hehehe
akhirnya menjelang H-3 menjelang hari kepindahan kami yang keempat kalinya, kami bicarakan ke mamah dan saudara terdekat. mereka pun kaget, karena mendadak. (xixixii gpp deh sambel juga enaknya dadakan, iya kan??)

Rumah KEEMPAT, okey tereng teng teng........ hari H,sebenarnya barang barang kami masih ada dirumah kedua (hayo yang mana???) yup rumah rekannya abah, lalu kenapa ga pindah lagi kesana?? yah,mungkin mencari suasana yang baru saja, dan malu soalnya selama kami pindah kemamah, rumah rekan abah itu jarang terurus. masa datang ketika ada butuhnya ajah. hihihii. kami pamit dan meminta ijin secara mendadak kepada pemilik rumah tsb dan tetangga sebelah saja yang mngetahui kepergian kami. (mantappppp benar benar dadakan, tapi sudah dipikirkan ko). Akhirnya pendistribusian barang dilakukan, sebagian barang - barang yang besar dikirim lagi kerumah mamah, soalnya rumah kontrakan kami yang ke 4 lebih kecil daripada rumah rekan abah yang kedua. Dan alhamdulillah hijrahnya kami ke tempat yang keempat ini disambut dengan berkah yaitu, turunnya hujan (walhasil, kasur dan baju basah, untungnya hanya sebagian) dahsyattttt kawan.

Alhamdulillah, aku syukuri semua peristiwa ini. aku bangga kawans, kenapa bangga??? padahal ga ada yang wah tuh...!!! ya aku bangga karena bisa mengalami kejadian seperti diatas, yang  pastinya tidak ada seorang pun didunia ini yang mengalami kejadian yang sama persis denganku, dan Allah mempercayai kami untuk menjadi tokoh dalam cerita ini. pokoknya sesuatu banget heheheheheh

 "Hijrah adalah momentum penting dalam lintasan sejarah perjuangan Islam dan kaum Muslimin"

2 Okt 2011

"Kabisa" Lutfi menginjak usia ke 11 bulan ^^


Waduh udah lama banget nih ga curhat ma diri sendiri…

Alhamdulillah wa syukurillah, lutfi saat ini sudah masuk ke usia yang ke 11 bulan. Udah bisa jalan pula, tapi masi kaya penguin (kata om cece) huhuhuu tega yah ;(

Bulan kesebelas ini, banyak banget “kabisa” lutfi, mau sombong dikit ah… hehehe

Ingsreuk ingsreukan (sedot ingus) padahal ga ada ingusnya lo… dan baru aku tahu pas mudik, kata ibu mertuaku itu namanya “ngadengis” hehehe

Terus ketika aku bilang “Laailahailallah”, kontan anakku langsung geleng geleng kepala bak orang yang sedang berdzikir, lucunya minta duit, eh salah… minta ampun hiihihiii..

Kabisa yang lainnya adalah ketika disuruh joget, ia langsung mengayunkan badannya kedepan dan belakang, sambil manggut manggut. Muach muach jadi makin gemes deh…

Oh iya sekarang kan lagi musimnya jargon ustadz lebay, “jamaaaahhh oh jamaaahh, Alhamdulillah” dan ternyata anakku juga bisa lho mengikuti gayanya sang ustadz, mudah mudahan ilmunya juga nurun, amiinnn alhamdu….lillah upsss keceplosan :q

Satu lagi ciri khas anakku adalah memiringkan kepalanya gaya ala anak imut ketika dinyanyikan lagu “cara hidup” (bagi yang belom tahu lagunya ayo cari tahu, bagus lho buat pendidikan akidah pada anak).

Oh iya, ketika dia mendengarkan adzan, pasti tangannya langsung memegang telinga seperti seorang muadzin…. Pernah suatu ketika , saat ia mengantuk kemudian mendengar adzan dia tetap bergaya ala muadzin tapi seperi orang terpaksa hehehe liat mukanya lucu banget, sambil merengek ia tetap memegang telinga sampai adzannya selesai, padahal aku tau banget klo ia lagi ngantuk dan malas untuk mengangkat tangannya. hihihiii

Dan saat ini Alhamdulillah lutfi udah bisa “nunjuk” mana mata, perut, kaki, lidah, gigi, dll

Dan tahukah pemirsa semua, lagu yang bisa bikin anakku langsung bergoyang adalah lagunya PLAYBOY dari 7icons ya Allah…. Lucu sih….tapi semoga ga keterusan ajeh sampe gede amiiiiinnnn..

Terus iklan sosis so nice yang ada personil SM*SH nya juga bisa bikin dia manggut manggut sendiri.:)

Film saat ini yang digandrungi oleh lutfi adalah spongebob, the Owl, larva,glumpers, Oglies pokonya kartun yang banyak warna yang mencolok dan ga ngomong .pusing kali yah klo kebanyakan ngomong hehehehe..

Alamdulillah, sampai saat ini lagu favoritnya untuk meninabobokannya adala lagu asmaul husna versi ary ginanjar yang ESQ… semoga nama2 ALLAH SWT masuk ke alam bawah sadarnya, dan merasuk kedalam hatinya always selalu (lho…lho…lho.. bahasa macam apa ini??)



12 Apr 2011

produk Propolisku

Apa itu PROPOLIS?

6 Apr 2011

dan akhirnya aku bangga menjadi ibu ^_^


BANGGA MENJADI IBU RUMAH TANGGA
Penulis: Ummu Ayyub
Muroja’ah: Ust Abu Ahmad

Hebat rasanya ketika mendengar ada seorang wanita lulusan sebuah universitas ternama telah bekerja di sebuah perusahaan bonafit dengan gaji jutaan rupiah per bulan. Belum lagi perusahaan sering menugaskan wanita tersebut terbang ke luar negri untuk menyelesaikan urusan perusahaan. Tergambar seolah kesuksesan telah dia raih. Benar seperti itukah?


Kebanyakan orang akan beranggapan demikian. Sesuatu dikatakan sukses lebih dinilai dari segi materi sehingga jika ada sesuatu yang tidak memberi nilai materi akan dianggap remeh. Cara pandang yang demikian membuat banyak dari wanita muslimah bergeser dari fitrohnya. Berpandangan bahwa sekarang sudah saatnya wanita tidak hanya tinggal di rumah menjadi ibu, tapi sekarang saatnya wanita ‘menunjukkan eksistensi diri’ di luar. Menggambarkan seolah-olah tinggal di rumah menjadi seorang ibu adalah hal yang rendah.

Kita bisa dapati ketika seorang ibu rumah tangga ditanya teman lama “Sekarang kerja dimana?” rasanya terasa berat untuk menjawab, berusaha mengalihkan pembicaraan atau menjawab dengan suara lirih sambil tertunduk “Saya adalah ibu rumah tangga”. Rasanya malu! Apalagi jika teman lama yang menanyakan itu “sukses” berkarir di sebuah perusahaan besar. Atau kita bisa dapati ketika ada seorang muslimah lulusan universitas ternama dengan prestasi bagus atau bahkan berpredikat cumlaude hendak berkhidmat di rumah menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anak, dia harus berhadapan dengan “nasehat” dari bapak tercintanya: “Putriku! Kamu kan sudah sarjana, cumlaude lagi! Sayang kalau cuma di rumah saja ngurus suami dan anak.” Padahal, putri tercintanya hendak berkhidmat dengan sesuatu yang mulia, yaitu sesuatu yang memang menjadi tanggung jawabnya. Disana ia ingin mencari surga.

Ibu Sebagai Seorang Pendidik

17 Mar 2011

ambu dan abah bernyanyi untuk mu :)

hmmmmm..... meski suara kaya kaleng rombeng, tapi bagi bayi suara ibunya adalah suara yang terMERDU dan terFAVORIT... jadi tak usah sungkan untyuk bernyanyi untuk buah hati :)

selamat bernyanyi..... :) :)

jampi jampi edition ^^

Pada awalnya semua org bangga dgn pilihannya.

Tapi pada akhirnya tidak semua org setia pada pilihannya.

Saat ia sadar bahwa yg dipilih mungkin tak sepenuhnya seperti yg diimpikannya.

Karena yg tersulit dlm hidup ini bukanlah memilih tapi bertahan pada pilihan.

Sedikit waktu mungkin sudah bisa menentukan pilihan, tapi tuk bertahan bisa menghabiskan sisa usiamu..


satu kata untukmu

"ISTIQOMAH"

16 Mar 2011

"ambu,bentar lagi aku 6 bulan" celoteh lutfi :)

iyaaaaaaa sayaaaaaaaaaaaaaaang ambu ingin persiapakan menu spesial untuk MPASI mu nak...

walhasil, inilah dasil browsing sono sini nya ambu, simpan dulu di blog, biar ga lupa n susyah susyah nyari pas waktunya :)

cekidot

Tanda-tandanya : bayi serius ngeliatin kita kalo pas lagi maem, tangannya menggapai-gapai makanan, suka nglamutin tangannya.

Apa yang harus aku makan?

14 Jan 2011

nak mari abah dan ambu perkenalkan, inilah dunia

Bismillahirrahmanirrahiiim....

Alhamdulillah bisa duduk depan komputer lagi, kangen banget "kutakketik" ga jelas, buat bahan cerita ntar pas nenek nenek hehehehe

2 bulan lebih 14 hari sudah aku menjadi emak-emak, gampang-gampang susah melakoni peran sebagai emak-emak ini. ya sudahlah (judul lagu bondan ft fade2black) jalani saja, toh semua juga akan mengikuti.
Sebelum cerita hari ini, aku akan membawa anda semua flashback ke waktu pada saat aku mondar mandir tak karuan menati hari persalinan.

H-10 sebelum hari kelahiran aku mulai check up ke bidan yang dipercaya untuk membantu proses persalinan pertama _awalnya sih check up ke puskesmas yang bidannya cantik, bersih dan someah *saur urangsunda mah*. dengan berbekal buku riwayat kehamilan, aku
mendatengi bidan itu, dan walhasil.... jengjengjeng..... *wajah tegang* sudah PEMBUKAAN DUA pemirsah. prediksi bidan, lahiran akan terjadi 3 - 4 hari lagi (kaya wartawan tv lagi nanya mamaloren), dengan tanda tanda umum keluar darah plus mules mules.