24 Nov 2011

Brokenhome not mean your life is broke

Bismillahirrohmannirrohiim...

Subhanalloh,
Ternyata tak mudah menjadi seorang wanita yang dapat menghebatkan suami dan anak-anaknya. Namun tetap itulah salah satu cita-cita terbesarku. Bagiku tak ada peran yang mendapatkan keuntungan ribuan sekaligus bahkan mungkin tak terhingga (jika berhasil), selain melakoni peran sebagai istri dan ibu yang baik sebaik-baiknya. Dan hal ini tidak mungkin tercapai bila tak ada dukungan dari suami dan anak-anak ku kelak.

Akhir - akhir ini sepertinya fenomena kawin cerai makin marak, apalagi dikalangan para selebritis. Rasa - rasanya KUA dan pengadilan agama menjadi laris manis bak kacang goreng. Dengan mudahnya "mereka" ganti status dari lajang menjadi berpacaran kemudian menikah, lalu kembali lagi menjadi lajang (baca: duda, janda), ah seperti di facebook saja yang dengan mudahnya berganti status. BUkankah pernikahan itu sesuatu yang sakral dan janji suci yang Allahpun ikut menjadi saksi? sebenarnya apa yang salah?

Alloh menakdirkanku untuk dibesarkan di lingkungan keluarga yang broken home. Pada saat itu broken home masih sangat tabu lain hal dengan sekarang, sehingga tak jarang membuatku minder. Seorang anak Broken home juga biasanya diidentikkan dengan perilaku yang juga "broke". Dan ternyata benar saja, dari hasil pengamatanku sendiri, sebagian besar perilaku "broke" pada anak itu karena berbagai "permasalahan" yang terjadi dirumah. Mungkin itulah sebabnya banyak sekali buku parenting yang melarang keras orang tua bertengkar dihadapan anak dan melakukan kekerasan pada anak. Dan aku ingin sekali mengubah paradigma itu, bahwa tak selalu anak broken home itu semuanya ikut broke juga. ya, walaupun aku tak bisa mengelak bahwa pada saat itu ada beberapa sifat yang berbeda dari anak yang hidup dengan "normal". Misalnya saja, sifatku yang cenderung introvert, tidak show up, kurang percayadiri, posesif, dlsb. dan baru kusadari saat ini bahwa jika sifat tersebut tidak dikelola, maka hampir dapat dipastikan aku akan menjadi pribadi yang lemah dan tertinggal kelak.

Sebagai seorang yang pernah menjadi anak broken home, dan kini telah merasakan jua menjadi orangtua, aku hanya ingin sedikit berbagi. Karena tak banyak yang kupunya selain pengalaman.

sebuah perbandingan....

Saat itu (perpisahan orangtua) saya berada dalam rentang usia yang dianggap rawan yakni 15 tahun. saya merasa jatuh dan menyalahkan takdir yang sudah terjadi. Namun peran sahabat dan mamah sangat membantu saya untuk tidak berbuat hal yang "aneh". Pada saat seperti ini support dan mengalihkannya kearah kegiatan yang positif sangat dibutuhkan. dan Alhamdulillah saya dipertemukan dengan sahabat-sahabat yang luar biasa baiknya. Hingga akhirnya saya bisa melewati rentang usia labil. Dan kini saya sudah mulai belajar tegas pada diri saya sendiri.

Adik bungsu saya saat itu masih berusia 3-4 tahun, dan masa kecilnya tetap bahagia seolah tak terjadi apa-apa. Walaupun sesekali suka bertanya, disinilah jawaban-jawaban bijak yang diperlukan.

Sedangkan rekan saya, ia mengalami kejadian itu ketika ia sudah mampu tegas terhadap dirinya yaitu 21 tahun. Walaupun shock itu pasti, namun ia sudah dapat mengambil sikap atas keputusan orangtuanya dan alhamdulillah ia mampu menjembatani keduanya.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatanku,kebanyakan anak yang mengalami broken home pada usia antara 9 - 18 tahun akan lebih terguncang dibandingkan dengan usia diatas atau dibawah rentang itu, kenapa? karena mereka sudah paham permasalahan orangtuanya, namun mereka bingung harus melakukan apa padahal mereka masih tergantung kepada orangtua nya. Mereka belum bisa tegas terhadap diri sendiri, apalagi tegas terhadap kedua orangtuanya.Disinilah peran lingkungan luar sangat dominan. Jika si anak masuk dalam pergaulan yang salah, maka hampir dapat dipastikan si anak juga akan bersikap seperti itu. Begitupun sebaliknya.

Seringkali aku mendengar kata "cerai baik-baik", bukankah dengan bercerai berarti ada sesuatu yang tak baik? seharusnya ya diperbaiki dong, bukan malah menggantinya dengan istilah "cerai baik - baik". Karena sebaik apapun perceraian, hal tersebut tetap menjadi luka berbekas di hati dan pikiran anak.

Disini aku tak ceritakan soal papah, bukan berarti aku membencinya, hanya saja selepas kejadian itu, aku tak tahu keidupan papah seperti apa, kami hanya berkomunikasi sesekali. Alamdulillah papah masih menafkahi anak anaknya.

CATATAN :
Bagi si anak
"Life must go on, tidak ada yang berhak merusak kehidupanmu kecuali aku sendiri yang menginginkannya"

"i was a broken home, but my akhlak isn't broke too"

"hey masalah besar, kau tidak ada apa-apanya dibandingkan Allahku yang Maha Besar"

"Hidup itu adalah ujian, dimana aku dapat naik tingkat apabila kita dapat melewatinya dengan baik"

"pemenang menghadapi masalah, pecundang lari dari masalah"

"broken home itu bukan penyakit turunan, jadi jangan sampai kelak anakku bernasib sama denganku"

"aku tetap menyayangi kedua orangtuaku karena Allah"

Bagi sahabat si anak
"berhentilah menanyakan hal yang malah membuatnya sedih, karena peran aku disini adalah menghiburnya bukan malah mengorek kesedihannya. Biarkan ia sendiri yang memulai cerita,sedangkan aku mensupport nya."

Bagi orangtua
sepelik apapun urusan rumah tangga, berusahalah untuk terus memperbaikinya dengan cara yang baik.

jika memang harus berpisah, jangan pernah lupakan tanggung jawab dunia akhiratmu. karena baik atau buruknya anakmu kelak akan kembali padamu


Catatan saya ini hanya bertujuan untuk memberi semangat bahwa
"brokenhome not mean your life is broke too"

0 cuap cuap:

Posting Komentar

bebas berkomentar (asal sopan) ^,^