25 Jul 2014

Buang sampah Emosi dengan Menulis (APAPUN)

Bismillahirrahmaannirrahiim,,


Akhirnya saya temui jawaban yang telah lama dicari,,,
pasca menikah, sepertinya tingkat ngomel-ngomel saya bertambah. Sempat berpikir "apa iya saya ga bahagia?" soalnya tiap hari kayannya adaaaaa aja yang bikin taring ini pengen keluar.hihihi.
Padahal nih yah sebelum menikah, "tantangan" yang saya hadapi itu lebih dahsyat lho dibandingkan pasca menikah, dan saya dapat melewatinya tanpa harus mengalami fase "amburadul" terlebih dahulu. fiuuuuhhhhh Alhamdulillah

Ternyata eh ternyata salah satunya adalah karena kegemaran saya corat coret ga jelas di buku "MIRAGE yang 58 lembar". Bagaikan Diary, dalam buku itu saya tumpahkan rasa bahagia, haru dan sedih saya. Alasan kenapa saya memilih buku tulis dijadikan sebagai diary adalah supaya gak ketahuan kalau itu adalah buku curhatan hihihihi. Soalnya pernah punya diary yang dikunci eh malah di jebol karena lupa nyimpen kuncinya. halaaah. dan satu alasan lagi adalah karena dulu diary itu pada umumnya tipis- tipis n imut imut. Kebayang dong dengan tulisan saya yang gak imut, terus tiap hari corat coretnya, lha berapa buku tuh yang harus dibeli?? mending buat beli cimol di kantin si bibi deh. hehehe

Yap, mungkin nih yah salah satu alasan saya agak emosian pasca menikah itu karena saya udah jarang lagi menulis, curhat atau sekedar corat-coret untuk sekedar menggambarkan perasaan saya. Hal ini baru disadari ketika kemarin di acara Arisan #IbuMuda Bandung saat teh @pewski sharing ilmu tentang menulis dari hati. Beliau adalah founder dari komunitas Great Muslimah.

tengkyuuuu teteh :*

ayah, ibu, tolong....

Bismillah,,

Orang tua adalah pondasi bagi anak - anaknya. Jika satu "tiada", maka anak akan tumbuh dengan pincang. Ia akan memerlukan banyak waktu lagi untuk bisa berjalan kembali dengan tegap, bahkan tidak sedikit dari mereka yang putus asa.

Seorang anak tidak pernah meminta terlahir dari orang tua yang bercerai, ini semata-mata adalah jalan hidup yang harus mereka terima. 

Ayah dan Ibu, jika memang perceraian telah menjadi jalan satu-satunya yang harus dipilih, tolong, tolong jangan menambah beban anak dengan melanjutkan pertikaian kalian setelah bercerai. Seorang anak perlu usaha yang keras untuk bisa menerima kenyataan yang pahit ini. Bantu mereka untuk menghilangkan trauma akibat kegagalan yang ayah dan ibu lakukan. Bantu mereka, ya bantu mereka memulihkan kekecewaannya. 

Apakah rela jika mereka mengalami nasib yang serupa?