29 Des 2011

Seputar Status Mahasiswaku

Akhir akhir ini saya "demen" memperhatikan berbagai status. Kalau ada yang tanya "status kamu apa?" pasti kebanyakan menjawab perihal status hubungan mereka, entah itu single, double or triple atau mungkin apple atau purple, heheh... Status bukan melulu soal relationship. Bagi saya status adalah sesuatu yang mewakilkan "kamu banget" mulai dari  relationship, pekerjaan, situasi, kondisi, persepsi, korelasi, regresi, (halaaah ngaco... demam skripsi pemirsah ^_^ ) yaaa pokonya menggambarkan kamu banget.

Bicara soal status, saya hendak merangkum cerita panjang soal status saya sebagaimahasiswa. Kenapa saya tulis cerita panjang, yaa karena memang panjang ceritanya. Secara gitu lho.... untuk mendapatkan gelar S1 akademik, saya butuh waktu 6 tahun untuk menyelesaikannya. Dan Alhamdulillah selama 6 tahun itu juga saya telah mendapatkan gelar S2 dikehidupan saya (Si Istri dan Si Ambu) huhuuuuuyyyy ;D.untuk S3(Si Nenek) entar nyusul insyaAllah kalu ada umur , hihiiiiihhiihiihhhhi hup kepanjangan ngikiknya :)

Sampai saat ini, status mahasiswa masih dipandang sebagai sesuatu yang "wah" bagi sebagian orang, terlebih saya berasal dari keluarga yang sederhana. Mengenyam bangku universitas dipandang sebagai sesuatu yang MAHAL dan PERCUMA, istilah lainnya "buang-buang duit" (duit ko dibuang-buang, kayak ga ada kerjaan ajah hehehe). Toh banyak sarjana yang meng"Anggur" setelah mereka lulus. Seharusnya usia 18th itu kan usia produktif bagi seseorang untuk "menghasilkan",bukan malah nambah beban orang tua dengan minta biaya yang lebih mahal. Mungkin itu beraku bagi sebagian orang tua, alamdulillah tidak bagi orangtuaku. Atau malah ada anak yang kurang berminat untuk mengecap bangku perkuliahan, dikarenakan sudah tidak tertarik untuk sekolah. Mereka lebih tertantang untuk belajar diluar "kotak", belajar tentang sosialisasi, komunikasi, pekerjaan dan berbagai hal tentang dunia kehidupan. Mungkin itu mereka, lain halnya denganku saat itu. Satu yang pasti semua ada jalan ketika anak dan orang tua mendukung, soal lainnya menyusul.

Awal saya ingin berstatus mahasiswa, bukan karena ingin menjaga gengsi atau dihormati. Saat itu keinginan saya untuk bersekolah masih sangat kuat, terlebih saya mendapatkan nilai kelulusan tertinggi diSMK semakin menguatkan saya untuk kembali "menguji nyali" di bangku sekolah.(masa mau masuk SMA lagi?),alasan lainnya adalah jujur saya belum siap dengan dunia kerja. Saya dapat gambaran saat PKL, persaingan dunia kerja yang menurut saya kurang sehat.

Saat itu saya mencoba untuk mengikuti tes PMDK, namun sayang saya gagal masuk. Karena memang jurusan saya saat SMK tidak sesuai dengan jurusan yang saya pilih  Saat itu tak ada uang lagi untuk Lanjut ke SPMB, karena jatah untuk biaya formulir sudah habis. Hari terakhir pembelian formulir restu mamah sudah ditangan, namun uangnya belum ditangan. dengan tekad, alhamdulillah ada teman yang sangat baik yang meminjamkan uang untuk pendaftaran. Walhasil ikutlah saya SPMB mengambil IPS (Pendidikan Akuntansi). Alhamdulillah Allah memberikan kesempatan kepada saya yang notabene lulusan tata kecantikan kulit untuk masuk ke pendidikan akuntansi (jangan aneh yah,,, saya juga kaget ko saat itu ^_^)

Status sebagai mahasiswa tidak semudah yang saya bayangkan. Apalagi saat itu ekonomi keluarga saya tengah goyang. Pikiran bercabang, hanya beberapa kawan yang tahu. Tingkat pertama alhamdulillah saya dipertemukan dengan kawan yang selalu memberikan energi positif dan peduli kepada saya. Kita saling menegur dan mengingatkan. memberi semangat dan motivasi. Meski kita punya prioritas masing-masing.

Suatu ketika, tanpa saya ketahui ada kawan saya yang mendaftarkan saya untuk mendapatkan beasiswa untuk membayar uang semester. Saat itu saya orangnya ga aktif, apalagi tanya-tanya soal informasi beasiswa.Alahamdulillah syukur padaMu ya Rabb, dan terimakasih kepadamu wahai sahabatku. Walhasil, tingkat dua dan tiga saya gratis membayar uang SPP semester.

Pikiran saya mulai hilang cabangnya satu. Tinggal beberapa cabang lagi yang harus saya pangkas. Salah satunya adalah mencari uang untuk bantu mama, minimal untuk uang jajanku sendiri dan "ngasih" kepada 2 adikku. Alhamdulillah Allah juga memudahkan, saat itu ada kawan yang memberi informasi mengenai tenaga pengajar privat. Alhamdulillah wasyukurillah.

Tingkat 2 dan 3 adalah masa-masa saya, masa apa??? masa iya. hahahah masa bahagia, masa pembelajaran, masa perenungan, masa sulit, masa menyakitkan (halah), masa penyadaran, masa pendewasaan, masa bersahabat. pokonya masa masa dimana saya dituntut untuk bisa mengambil keputusan untuk menentukan hidup saya kedepan, entah itu soal jodoh, soal sikap, soal impian, soal karir, dan sebagainya. Untuk detailnya tanya langsung pada saya (hahahaahha, ngawur pemirsah).

Masuk tingkat 4, I'm a wife,,, bulan madu kami isi dengan pisah ranjang (whyyyyy???), soale saya sedang masuk perkuliahan KKN. ya terpaksa saya diungsi in dulu. heheheh.sepanjang jalan cicadas-ciwidey, teman-teman KKN menjadi saksi masa-masa pacaran sekaligus bulan madu kami. Di akhir tingkat 4, sesuatu yang membahagiakan terjadi, helloooo i'm pregnant. yiiiiippiiiii.... masa masa PKL yang dahsyat, terimakasih kepada dosen dan guru pembimbing yang mengertiiiiiii banget. Juga pada kawans PKL ku, tak lupa penguji yang memberi kemudahan. namun sayang skripsi tak terselesaikan.

Masuk tingkat 5, rencana tinggalah rencana. skripsi yang saya targetkan tak terkejar, atau lebih tepatnya lagi sengaja tak saya kejar, fokus saya berpindah haluan pada buah hati kami. Akhirnya saya putuskun untuk mengambil cuti. agar uang yang dibayarkan tidak menjadi mubazir. tahun kelima status mahasiswa, hari-hari saya lalui dengan menemani lutfi. akhir tingkat 5 saya magang untuk kelengkapan skripsi saya yang tertunda, saat itu lutfi masuk usia 4 bulan, dan terpaksa saya harus menitipkannya kepada tante kesayangan saya.

di tingkat 6 ini, saya bertekad kembali untuk melepaskan status mahasiswa saya. Ya, saya harus menuntaskannya. Ini sebagai pembuktian diri. Kegalauan membagi waktu untuk menemani lutfi, mengerjakan pekerjaan rumah, mengerjakan draft skripsi,dan menemui dosen untuk bimbingan adalah sesuatu yang membuat kami (saya dan abah) berpikir keras. Mungkin bisa dikatakan bahwa salah satu alasan abah untuk resign (memilih freelance) adalah untuk mendukung saya menyelesaikan skripsi ini. Malu rasanya harus izin kepada atasan abah hanya untuk mengantar dan mengajak main lutfi saat saya bimbingan. sekarang kita lebih bisa mengatur jadwal, kapan saya bimbingan, kapan abah bekerja, dan kapan kita bermain bersama.

Alhamdulillah meski semuanya tak gampang seperti yang dituliskan, tapi inilah cara kami untuk menggapai impian bersama. Ya, impian bersama. Bukan impian saya sendiri atau impian abah sendiri. Kamilah yang berperan sebagai aktor dalam hidup kami sendiri. Kami ingin bahagia, tentunya dengan standar kami sendiri. Do'a dan dukungan, itu yang kami harap.

Sekarang, BAB 1,2,3 telah ditangan. Masuk ke BAB 4 dan 5 mudah-mudahan Allah memperlancar jalannya. Allahumma yassir wa la tu'assir..... Amiin Allahuma Amiin....

9 Des 2011

DUA ORANG BAIK YANG PERKAWINANNYA TIDAK BERAKHIR BAHAGIA...

Bismillahir-Rahmanir-Rahim


Ibu saya adalah seorang yang sangat baik,
sejak kecil, saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga.
Ia selalu bangun dini hari,
memasak bubur yang panas untuk ayah,
karena lambung ayah tidak baik,
pagi hari hanya bisa makan bubur.

Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi untuk anak-anak,
karena anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan,
perlu makan nasi,
dengan begitu baru tidak akan lapar seharian di sekolah.
Setiap sore, ibu selalu membungkukkan badan menyikat panci,
setiap panci di rumah kami bisa dijadikan cermin,
tidak ada noda sedikikt pun.
Menjelang malam,
dengan giat ibu membersihkan lantai,
mengepel seinci demi seinci,
lantai di rumah tampak lebih bersih dibanding sisi tempat tidur orang lain,
tiada debu sedikit pun meski berjalan dengan kaki telanjang.

Ibu saya adalah seorang wanita yang sangat rajin.

Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang baik.
Dalam proses pertumbuhan saya, tidak hanya sekali saja ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam perkawinan, tidak memahaminya.
Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab.

Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras,
serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu,
bahkan saat libur juga masih mengatur jadwal sekolah anak-anak,
mengatur waktu istrirahat anak-anak,
ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab,
mendorong anak-anak untuk berpretasi dalam pelajaran.

Ia suka main catur,
suka larut dalam dunia buku-buku kuno.
Ayah saya adalah seoang laki-laki yang baik,
di mata anak-anak,
ia maha besar seperti langit,
menjaga kami,
melindungi kami dan mendidik kami.

Hanya saja, di mata ibuku,
ia juga bukan seorang pasangan yang baik,
dalam proses pertumbuhan saya,
kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam diam di sudut halaman.
Ayah menyatakannya dengan kata-kata,
sedang ibu dengan aksi, menyatakan kepedihan yang dijalani dalam perkawinan.

Dalam proses pertumbuhan,
aku melihat juga mendengar ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu,
sekaligus merasakan betapa baiknya mereka,
dan mereka layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik.
Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia,
kehidupan perkawinan mereka lalui dalam kegagalan,
sedangkan aku, juga tumbuh dalam kebingungan,
dan aku bertanya pada diriku sendiri :
Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?

Pengorbanan yang dianggap benar.

Setelah dewasa,
saya akhirnya memasuki usia perkawinan,
dan secara perlahan–lahan saya pun mengetahui akan jawaban ini.
Di masa awal perkawinan,
saya juga sama seperti ibu,
berusaha menjaga keutuhan keluarga,
menyikat panci dan membersihkan lantai,
dengan sungguh-sungguh berusaha memelihara perkawinan sendiri.
Anehnya, saya tidak merasa bahagia ;
dan suamiku sendiri, sepertinya juga tidak bahagia.

Saya merenung,
mungkin lantai kurang bersih,
masakan tidak enak,
lalu, dengan giat saya membersihkan lantai lagi,
dan memasak dengan sepenuh hati.
Namun, rasanya, kami berdua tetap saja tidak bahagia. .

Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk membersihkan lantai,
suami saya berkata :
istriku, temani aku sejenak mendengar alunan musik!

Dengan mimik tidak senang saya berkata :
apa tidak melihat masih ada separoh lantai lagi yang belum di pel ?

Begitu kata-kata ini terlontar,
saya pun termenung, kata-kata yang sangat tidak asing di telinga,
dalam perkawinan ayah dan ibu saya, ibu juga kerap berkata begitu sama ayah.
Saya sedang mempertunjukkan kembali perkawinan ayah dan ibu,
sekaligus mengulang kembali ketidakbahagiaan dalam perkawinan mereka.
Ada beberapa kesadaran muncul dalam hati saya.

Yang kamu inginkan ?

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya,
lalu memandang suamiku,
dan teringat akan ayah saya.
Ia selalu tidak mendapatkan pasangan yang dia inginkan dalam perkawinannya,
waktu ibu menyikat panci lebih lama daripada menemaninya.
Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga,
adalah cara ibu dalam mempertahankan perkawinan,
ia memberi ayah sebuah rumah yang bersih,
namun, jarang menemaninya,
sibuk mengurus rumah,
ia berusaha mencintai ayah dengan caranya, dan cara ini adalah mengerjakan urusan rumah tangga.
Dan aku, aku juga menggunakan caraku berusaha mencintai suamiku.
Cara saya juga sama seperti ibu,
perkawinan saya sepertinya tengah melangkah ke dalam sebuah cerita,
dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia.

Kesadaran saya membuat saya membuat keputusan (pilihan) yang sama.

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di sisi suami, menemaninya mendengar musik, dan dari kejauhan, saat memandangi kain pel di atas lantai seperti menatapi nasib ibu.

Saya bertanya pada suamiku :
apa yang kau butuhkan ?

Aku membutuhkanmu untuk menemaniku mendengar musik,
rumah kotor sedikit tidak apa-apa-lah,
nanti saya carikan pembantu untukmu,
dengan begitu kau bisa menemaniku!
ujar suamiku.

Saya kira kamu perlu rumah yang bersih,
ada yang memasak untukmu,
ada yang mencuci pakaianmu dan saya mengatakan sekaligus serentetan hal-hal yang dibutuhkannya.

Semua itu tidak penting-lah! ujar suamiku.
Yang paling kuharapkan adalah kau bisa lebih sering menemaniku.

Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan,
hasilnya benar-benar membuat saya terkejut.
Kami meneruskan menikmati kebutuhan masing-masing,
dan baru saya sadari ternyata dia juga telah banyak melakukan pekerjaan yang sia-sia,
kami memiliki cara masing-masing bagaimana mencintai,
namun, bukannya cara pihak kedua.

Jalan kebahagiaan

Sejak itu, saya menderetkan sebuah daftar kebutuhan suami,
dan meletakkanya di atas meja buku.
Begitu juga dengan suamiku,
dia juga menderetkan sebuah daftar kebutuhanku.
Puluhan kebutuhan yang panjang lebar dan jelas,
seperti misalnya,
waktu senggang menemani pihak kedua mendengar musik,
saling memeluk kalau sempat,
setiap pagi memberi sentuhan selamat jalan bila berangkat.

Beberapa hal cukup mudah dilaksanakan,
tapi ada juga yang cukup sulit,
misalnya dengarkan aku,
jangan memberi komentar.
Ini adalah kebutuhan suami.
Kalau saya memberinya usul,
dia bilang akan merasa dirinya akan tampak seperti orang bodoh.
Menurutku, ini benar-benar masalah gengsi laki-laki.
Saya juga meniru suami tidak memberikan usul,
kecuali dia bertanya pada saya,
kalau tidak saya hanya boleh mendengar dengan serius,
menurut sampai tuntas,
demikian juga ketika salah jalan.

Bagi saya ini benar-benar sebuah jalan yang sulit dipelajari,
namun, jauh lebih santai daripada mengepel, dan dalam kepuasan kebutuhan kami ini,
perkawinan yang kami jalani juga kian hari semakin penuh daya hidup.
Saat saya lelah,
saya memilih beberapa hal yang gampang dikerjakan,
misalnya menyetel musik ringan,
dan kalau lagi segar bugar merancang perjalanan keluar kota .
Menariknya, pergi ke taman flora adalah hal bersama dan kebutuhan kami,
setiap ada pertikaian, selalu pergi ke taman flora,
dan selalu bisa menghibur gejolak hati masing-masing.
Sebenarnya, kami saling mengenal dan mencintai juga dikarenakan kesukaan kami pada taman flora,
lalu bersama kita menapak ke tirai merah perkawinan,
kembali ke taman bisa kembali ke dalam suasana hati yang saling mencintai bertahun-tahun silam.

Bertanya pada pihak kedua :
apa yang kau inginkan, kata-kata ini telah menghidupkan sebuah jalan kebahagiaan lain dalam perkawinan. Keduanya akhirnya melangkah ke jalan bahagia.
Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa bahagia,
mereka terlalu bersikeras menggunakan cara sendiri dalam mencintai pihak kedua,
bukan mencintai pasangannya dengan cara pihak kedua.

Diri sendiri lelahnya setengah mati,
namun, pihak kedua tidak dapat merasakannya,
akhirnya ketika menghadapi penantian perkawinan,
hati ini juga sudah kecewa dan hancur.
Karena Tuhan telah menciptakan perkawinan,
maka menurut saya,
setiap orang pantas dan layak memiliki sebuah perkawinan yang bahagia,
asalkan cara yang kita pakai itu tepat, menjadi orang yang dibutuhkan pihak kedua!
Bukannya memberi atas keinginan kita sendiri,
perkawinan yang baik,
pasti dapat diharapkan
Sumber: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=179472828786459&set=t.100000552424375&type=1&theater