1 Sep 2010

abah yang tak aku ketahui "i love u full tank abah" ^^

Nasehat Aa Gym Tentang “Orang Penting”

Tahun 2000 adalah tahun pertama saya masuk kerja. Girang sekali hati saya, mengingat dengan diterima kerja saya bisa melamar “mantan pacar”, yang kini sudah 10 tahun mendampingi sepak terjang saya. Rasanya enggak sabar menunggu malam perta… eh, saat akad nikah, ketika kami bersanding menjadi suami-istri. Sudah gatel rasanya untuk segera beraksi, mensahkan ikatan suami-istri yang digadang-gadang banyak orang sebagai surga dunia itu.

Habisnya, saya sudah mulai keteteran juga mengikuti saran Nabi Muhammad (maapin ane ye Kanjeng Nabi, ane cuma orang biasa yang gak punya kemampuan ngikutin gaya para sufi) bagi para pemuda yang rata-rata besar syahwatnya, supaya mengendalikan hawa nafsu dan menghindari dosa pakai puasa. Alhamdulillah. Disaat spaneng sudah tinggi itulah Allah menakdirkan saya dapat kerja, enggak sampai sebulan dari hari wisuda sarjana.

Menjelang pernikahan, makin berbunga-bunga saja perasaan ini ketika diundang guru saya, K.H. Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym, untuk tampil di TVRI Stasiun Daerah Jawa Barat, dalam acara : “Rumahku, Surgaku”. Enggak tanggung-tanggung, calon istri juga ikut diundang untuk diberi tausiyah bersama-sama saya. Wah, alangkah hebohnya setelah itu, sebab para kenalan kami yang luput diberi undangan jadi tahu kami akan menikah, gara-gara kebetulan menyaksikan Aa menceramahi kami berdua di televisi.

Selesai acara, ternyata Aa belum sama sekali selesai menasehati saya. Mendengar saya menikah karena telah dapat pekerjaan, pada kesempatan seusai on-air itu Aa memberikan beberapa nasihat tentang ikhtiar yang penuh manfaat kepada saya.

“Ed, Aa ingin, kalau kamu memegang amanah di perusahaan, kamu lebih banyak berpikir bagaimana caranya agar menjadi orang penting, bukan sekadar merasa penting.”kata Aa mengawali nasehatnya. ”Lihat, berapa banyak orang yang menjadi Presiden, Jenderal, Direktur dan Ulama, tapi tampak tidak ada manfaat atau pengaruh positifnya bagi rakyat, anak buah, pegawai atau santrinya. Jadilah orang yang selalu bertanya berapa banyak diri kita sudah memberikan manfaat, bukan berapa banyak diri kita sudah mendapatkan laba atau berapa pantas diri kita untuk naik jabatan.”

“Orang Penting” Dari Ciamis

Taryana Yanthesky

Taryana Yanthesky

Hari berganti hari, saya menjadi suami, menjadi ayah, dan beberapa kali pegang jabatan penting di perusahaan tempat bekerja. Medio awal 2000-an memang merupakan jaman keemasan untuk grup perusahaan itu. Profit lagi berkembang, benefit lagi berkembang, tinggal menunggu langkah-langkah berikutnya agar kontinuitas perusahaan bisa tercapai. Standar mutu tampaknya sudah harus mulai diterapkan pada perusahaan dan divisi usaha yang bernaung dibawah korporasi tempat saya bekerja.

Salah satu dari sesi kegiatan standarisasi mutu adalah survei atau penyebaran angket mengenai,”Siapakah orang yang paling penting”, baik dalam lingkup unit usaha, lingkup struktural dewan direksi, maupun lingkup keseluruhan korporasi. Membaca angketnya, orang penting yang dicari melalui survei itu saya definisikan sebagai : “mereka yang kehadirannya dianggap anugerah, dan ketidakhadirannya dianggap musibah”.

Ternyata, “orang penting” yang ditunjuk oleh hasil angket adalah Taryana, staf teknisi bagian IT (Information Technology), yang kadangkala merangkap juga pekerjaan-pekerjaan umum. Saya terkagum-kagum membaca hasil survei, sekaligus tertawa menyaksikan wajah para Supervisor, Manajer dan Direksi, yang justru berdasarkan survei dituding sebagai :”mereka yang kehadirannya dianggap musibah, dan ketidakhadirannya dianggap anugerah”. Untung, saya tidak mendapat imej separah beberapa dari mereka, yang bahkan dianggap lebih baik tidak usah datang ke kantor oleh orang-orang yang mereka bawahi. So, kenapa pria muda bernama singkat, Taryana, asal Ciamis itu yang malah jadi “orang penting” diseantero korporasi ?

Ibu Utami, Kepala Bagian Komunikasi Pemasaran mengakui bahwasanya, Taryana layak sekali didapuk sebagai “orang paling penting” di kantor kami. “Taryana itu seperti Superman atau Batman, yang siap dihubungi dan bahkan tahu-tahu ada waktu kita betul-betul lagi butuh bantuan.”puji Kabag Komunikasi Pemasaran yang akrab dipanggil Teh Umi itu.”Saya dan tim pernah mengalami kesulitan mencetak dokumen penting, padahal waktu kirim dokumen itu sudah mepet sekali. Dengan sigap Taryana berhasil menyelesaikan semua kendala itu dalam waktu yang juga singkat. Taryana is the best-lah, pokoknya !”

Ibu Lina, Manajer Humas dan Dokumentasi juga punya pengalaman mendebarkan yang melibatkan “tangan dingin” Taryana saat menyelesaikannya. “Saya sempat stres berat dan tidak bisa tidur nyenyak hampir seminggu, gara-gara file dokumentasi untuk laporan tahunan terserang virus. Semua file tidak bisa dibuka, dan kesalahan fatal dari seorang staf malah membuat maksud menghapus virus menjadi penghapusan seluruh file dokumentasi. Seluruh file itu hilang. Bayangkan. Kerja keras berbulan-bulan nyaris sia-sia, gara-gara virus dan salah penanganan.”cerita Ibu Lina, dengan penuh semangat dan mata berkilat-kilat.

”Ketika itu, seorang staf meminta saya untuk langsung saja menghubungi Taryana. Saya pikir, staf saya yang S1 Teknik Informatika saja bisa salah menangani, apalagi Taryana yang setahu saya hanya lulusan Diploma 1. Tapi karena saya sudah pasrah, akhirnya saya ijinkan Taryana untuk memulihkan PC saya dari virus dan kalau bisa mengembalikan file-file yang terhapus.” Subhaanalloh ! Alhamdulillah ! Apa yang disarankan oleh staf Ibu Lina ternyata membuahkan berkah. Taryana berhasil memulihkan PC dari serangan virus, sementara file-file yang terhapus bisa dikembalikan walau harus mengalami sedikit proses perapihan lagi.

Saya juga salah satu orang yang memilih Taryana sebagai “orang penting” dikantor kami. Karena reputasi dia yang tersohor keseluruh korporasi, juga karena sebuah kejadian “kecil” yang membuat saya kerap punya perasaan malu dan berdosa kepada anak muda lulusan Diploma 1, yang sengaja meninggalkan kota kelahirannya, Ciamis, demi mengadu nasib di kota Bandung itu. Kejadian memalukan itu bermula saat saya tidak bisa melakukan chatting (chatting-nya bukan urusan kerja, pula), dan saya dengar dari orang-orang diruangan saya bahwa Taryana-lah yang baru saja mengutak-atik jaringan di areal tersebut.

Saya yang kebelet chatting jadi emosi, dan karena merasa lebih senior juga lebih tinggi jabatan spontan memanggil dia untuk datang ke ruangan.”Bagaimana ini, saya kok jadi enggak bisa chatting. Padahal saya lagi menghubungi klien lho ini !”semprot saya ketika Taryana masuk kedalam ruangan. Dengan tergopoh-gopoh dan wajah diliputi kegugupan Taryana menjulurkan kepalanya kebawah meja kerja saya untuk mencari sebab-musabab, mengapa saya sampai tidak bisa chatting bahkan tidak bisa membuka internet.”Maaf, Pak. Ini kabelnya tertindih sepatu, Bapak,”ucap Taryana sambil menunjukkan letak sepatu saya- saya pakai sepatu caterpillar yang beratnya mengalahkan berat rata-rata sepatu itu-, dan memegang kabelnya. Astaghfirulloh. Lagak jumawa saya berubah menjadi perasaan minder dan merasa bodoh, mengingat saya tidak bisa chatting dan browsing itu gara-gara ulah saya sendiri.

“Aduh. Maaf ya, Tar.”ucap saya pendek, karena tidak bisa bicara apa-apa lagi. Taryana tersenyum tulus, tanpa hawa mengejek, sebagaimana keramahan Urang Sunda yang polos asal tatar Garut, Tasikmalaya, Ciamis atau kota Banjar. Duh, makin tidak karuan saja perasaan ini pas menyaksikan ketulusannya.“Ya Allah. Alhamdulillah. Saya diberi pelajaran tentang kerendahan hati hari ini…”gumam saya ketika Taryana berlalu.

Pengalaman Teh Umi, Ibu Lina dan saya hanyalah sepersekian saja dari pengalaman-pengalaman biasa yang luar biasa, dari mereka yang pernah bekerjasama atau menggunakan jasa Taryana, “Si Orang Penting dari Ciamis”. Saya kemudian menjadi saksi bagaimana perjalanan seorang anak desa yang polos menjadi seorang ahli jaringan internet yang kredibel. Saat ini, sebagai ahli jaringan kabel maupun nirkabel, secara pribadi Taryana sudah menangani klien-klien terkemuka seperti : Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata-Yapari (STIEPAR YAPARI) dan Pesantren Virtual Daarut Tauhiid yang semuanya berlokasi di kota Bandung.

Taryana juga dipercaya oleh salah seorang motivator kenamaan Indonesia, Masrukhul Amri, MBA, untuk mengelola website pribadi dan mengemas materi-materi presentasinya kedalam format digital. Sebuah prestasi luar biasa, bagi seorang anak desa yang sempat tinggal di kamar kost yang kerap dilanda banjir, waktu awal-awal ia menjejakkan kakinya di kota kembang Bandung. Taryana, kini tidak hanya menjadi “orang penting” bagi kantornya, tapi juga jadi “orang penting” diluar lingkungan kantornya, dan sebentar lagi : akan menjadi “orang penting” bagi jabang bayi anak pertamanya, yang kini tengah memasuki usia 8 bulan dalam kandungan istrinya. Subhaanalloh. Dengan mengikuti perjalanan hidup Taryanalah akhirnya saya memperoleh hikmah dan memahami pengejawantahan dari nasihat guru saya, Aa Gym, berkenaan dengan “orang penting”.

“Jadilah orang yang menjadi penting, Ed, bukan orang yang merasa penting.

Lihat berapa besar diri sudah bermanfaat bagi orang lain,

jangan melihat berapa besar diri layak mendapat laba

atau berapa pantas diri mencapai sebuah jabatan tinggi.”

…terngiang selalu nasehat Aa setiap saya merenungkan perjalanan hidup Taryana.

(aea)

*ditulis sebagai bingkisan kecil motivasi bagi Taryana Yanthesky, yang insya Allah sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah. “Sing bagja nyak, Lur…”


Note:: terimakasih kepada abang eddy (sahabat abah di Abadi)

http://ekonomi.kompasiana.com/group/wirausaha/2010/08/22/orang-penting-dari-ciamis/

2 cuap cuap:

AAN ANZ mengatakan...

like this juga sel..

selly mengatakan...

tengkyuuuu aan :D

Posting Komentar

bebas berkomentar (asal sopan) ^,^