Bismillahirrahmaanirrahim...
“Saya terima nikahnya Ayuningtyas binti Suparman dengan mas kawin 10grm emas dan seperangkat alat sholat dibayar tunai”
“sah..?”
“saaaahhhh…”
Airmataku jatuh, tak kuasa ku menahan haru bahagia
kala itu. Bagaimana tidak, tepat seminggu menjelang hari H, aku masih berdebat
dengan ayah soal pernikahanku. Ayah tak pernah setuju anaknya menikah di usia muda,
dengan alasan dulu beliau menikah muda dengan ibu dan harus berpisah setelah 13
tahun bersama.
H-7 usia aku berdebat dengan ayah di telepon,
langsung ku menelepon mas Rangga.
“Mas, aku takut.” Suaraku parau setelah menangis
semalaman
“Kita serahkan semuanya kepada Allah ya dik, niat
kita baik, ibumu juga sudah merestui, orang tua mas juga merestui, Insya Allah
semua akan berjalan lancar.” Suara mas Rangga terdengar begitu menyejukkan.
“Tapi aku khawatir ayah tak mau menjadi wali nikahku,
lantas bagaimana? ”
“Dik tyas, kita sudah berusaha dan menerangkannya kepada
ayah, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, Allah jua yang menguasai hati
setiap insan. Mudah saja bagi Allah untuk membolak-balikkan hati seseorang…”
“Tapi aku takut keluargamu kecewa atas penerimaan
yang kurang baik dari ayahku nanti, mas.” Aku menyela.
“Dari awal mas berniat meminangmu, ibumu sudah menceritakan semuanya, mas sudah
tau resiko yang harus mas hadapi jika kelak mas memilihmu. Dan semua itu sudah
mas ceritakan kepada ayah dan ibu mas, dan mereka tetap mendukung semua
keputusan mas. Mas akan tetap melanjutkan niat mas untuk menikahimu. Apakah engkau
mulai meragui kesungguhan mas dan keluarga?”
“Tidak mas!!! Semoga saja Allah mewujudkan niat baik
kita yah mas,” kataku sambil terisak.
“iya, insya Allah. Aamiin. Sudahlah sebaiknya engkau
beristirahat ya dik, salam untuk ibu. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam”.
Saat hari H, semua kerabat dan sahabat telah hadir,
keluarga mas Rangga telah tiba tepat 15 menit sebelum pak penghulu datang. Sedangkan
ayah, beliau belum saja tiba. Membuatku ingin rasanya berlari jauh untuk
berteriak sekeras mungkin. Ibu berusaha menenangkan dengan cara menyuruhku untuk
terus berdzikir dan bersholawat.
Bukan hanya aku yang cemas, semua yang hadir turut
gelisah. Kemungkinan untuk gagal semakin besar ketika pak penghulu mulai
menanyakan kepada ibu, siapa yang akan menjadi wali nikahnya.
Alhamdulillahirabbil’alamiin, setelah 35 menit berada
dalam kegelisahan. Terlihat sebuah mobil avanza putih meluncur kedalam parkiran
Masjid Sudirman. Ya, itu Ayah dan Ibu Tiriku. Tangisan haru membuncah seketika,
bukan hanya aku, tapi semua. Ayah datang dan menyalami paman yang ada diluar,
kemudian beliau menghampiriku lalu mengusap kepalaku dan mencium keningku dan berkata maaf karena sudah
membuat ku bersedih. Kulihat wajah ibu yang tersenyum sambil mengangguk, yang
kubalas dengan pelukan erat.
Didepan sana kulihat ayah memeluk mas Rangga, kemudian menyalaminya sebagai tanda bahwa Ijab
– Qobul sedang dilakukan. Tak henti rasa syukur ku panjatkan kepada Rabb yang
menjadikan semuanya. Bidznillah_
Nama saya Selly Puspita Arisandy, dengan nama pena
Rei Aghisna. Saya tinggal di Bandung. Nama FB saya Selly Puspita Arisandy.
Alamat Email my_bikari@yahoo.com. Saya
masih baru dalam dunia literasi ini. Berharap bisa memberikan inspirasi kepada
banyak orang.


0 cuap cuap:
Posting Komentar
bebas berkomentar (asal sopan) ^,^