23 Feb 2013

Ada Kuasa Allah Menjelang Pernikahanku



Bismillahirrahmaanirrahim...

“Saya terima nikahnya Ayuningtyas binti Suparman dengan mas kawin 10grm emas dan seperangkat alat sholat dibayar tunai”
“sah..?”
“saaaahhhh…”
Airmataku jatuh, tak kuasa ku menahan haru bahagia kala itu. Bagaimana tidak, tepat seminggu menjelang hari H, aku masih berdebat dengan ayah soal pernikahanku. Ayah tak pernah setuju anaknya menikah di usia muda, dengan alasan dulu beliau menikah muda dengan ibu dan harus berpisah setelah 13 tahun bersama.


H-7 usia aku berdebat dengan ayah di telepon, langsung ku menelepon mas Rangga.
“Mas, aku takut.” Suaraku parau setelah menangis semalaman
“Kita serahkan semuanya kepada Allah ya dik, niat kita baik, ibumu juga sudah merestui, orang tua mas juga merestui, Insya Allah semua akan berjalan lancar.” Suara mas Rangga terdengar begitu menyejukkan.
“Tapi aku khawatir ayah tak mau menjadi wali nikahku, lantas bagaimana? ”
“Dik tyas, kita sudah berusaha dan menerangkannya kepada ayah, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, Allah jua yang menguasai hati setiap insan. Mudah saja bagi Allah untuk membolak-balikkan hati seseorang…”  
“Tapi aku takut keluargamu kecewa atas penerimaan yang kurang baik dari ayahku nanti, mas.” Aku menyela.
“Dari awal mas berniat meminangmu,  ibumu sudah menceritakan semuanya, mas sudah tau resiko yang harus mas hadapi jika kelak mas memilihmu. Dan semua itu sudah mas ceritakan kepada ayah dan ibu mas, dan mereka tetap mendukung semua keputusan mas. Mas akan tetap melanjutkan niat mas untuk menikahimu. Apakah engkau mulai meragui kesungguhan mas dan keluarga?”
“Tidak mas!!! Semoga saja Allah mewujudkan niat baik kita yah mas,” kataku sambil terisak.
“iya, insya Allah. Aamiin. Sudahlah sebaiknya engkau beristirahat ya dik, salam untuk ibu. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam”.

Saat hari H, semua kerabat dan sahabat telah hadir, keluarga mas Rangga telah tiba tepat 15 menit sebelum pak penghulu datang. Sedangkan ayah, beliau belum saja tiba. Membuatku ingin rasanya berlari jauh untuk berteriak sekeras mungkin. Ibu berusaha menenangkan dengan cara menyuruhku untuk terus berdzikir dan bersholawat.

Bukan hanya aku yang cemas, semua yang hadir turut gelisah. Kemungkinan untuk gagal semakin besar ketika pak penghulu mulai menanyakan kepada ibu, siapa yang akan menjadi wali nikahnya.

Alhamdulillahirabbil’alamiin, setelah 35 menit berada dalam kegelisahan. Terlihat sebuah mobil avanza putih meluncur kedalam parkiran Masjid Sudirman. Ya, itu Ayah dan Ibu Tiriku. Tangisan haru membuncah seketika, bukan hanya aku, tapi semua. Ayah datang dan menyalami paman yang ada diluar, kemudian beliau menghampiriku lalu mengusap kepalaku dan mencium  keningku dan berkata maaf karena sudah membuat ku bersedih. Kulihat wajah ibu yang tersenyum sambil mengangguk, yang kubalas  dengan pelukan erat.

Didepan sana kulihat ayah memeluk mas Rangga,  kemudian menyalaminya sebagai tanda bahwa Ijab – Qobul sedang dilakukan. Tak henti rasa syukur ku panjatkan kepada Rabb yang menjadikan semuanya. Bidznillah_



Nama saya Selly Puspita Arisandy, dengan nama pena Rei Aghisna. Saya tinggal di Bandung. Nama FB saya Selly Puspita Arisandy. Alamat Email my_bikari@yahoo.com. Saya masih baru dalam dunia literasi ini. Berharap bisa memberikan inspirasi kepada banyak orang.

0 cuap cuap:

Posting Komentar

bebas berkomentar (asal sopan) ^,^